Pemikiran Saya untuk Sebuah Sekolah Islam Terpadu

Dari penulisan saya dalam suatu lomba Pekan Bahasa di tempat  mengajar, terinspirasi dalam pikiran, ingin berbagi dengan anda, tulisan  itu sebagai berikut:

LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS MEMBANGUN PERADABAN ISLAM
DI SEBUAH SEKOLAH ISLAM TERPADU

    Pada dekade terakhir di Indonesia sekarang ini, kita dikenalkan dengan sebuah institusi Islam yang mewacanakan suatu sekolah berasrama dengan memadukan kurikulum dari departemen Pendidikan Nasional dan kurikulum nilai-nilai keislaman. Dengan demikian, ini adalah suatu bentuk baru dari model institusi pendidikan. Dikatakan mengambil bentuk baru, karena jika merunut  bentuk-bentuk institusi pendidikan yang sudah ada sebelumnya, baik formal maupun nonformal belum ada yang memadukan sebagaimana sekolah IT(Islam terpadu) ini.
    Sebagai suatu bentuk, tentu sekolah IT pun tidak terlepas dari berbagai kelemahan. Jika Sekolah yang hanya mengacu kepada kurikulum Diknas berpotensi kekurangan nilai-nilai keagamaan, sedangka pesantren berpotensi untuk ketinggalan zaman, begitu pula, sekolah IT  berpotensi memiliki kelemahan-kelemaha disamping keunggulannya yang tentu lebih banyak. Adapun  kelemahan-kelemahan yang mungkin muncul di suatu sekolah IT menurut penulis adalah hal-hal berikut:

    a. Rasa jenuh pada siswa karena suasana yang jarang berubah

        Sekolah IT berada dalam suatu kompleks yang didalamnya diharapkan dengan adanya penyatuan antara sekolah dan asrama, siswa dapat dikawal selama 24 jam dalam beraktifitas. Tetapi di sisi lain, karena di suatu tempat yang berterusan monoton, maka peluang kejenuhan menjadi hal yang tak terelakkan.

    b. latar belakang siswa dari kalangan menengah ke atas terkadang berpola hidup manja

        Dalam pengamatan saya, kebanyakan atau bahkan hampir semua, sekolah IT adalah sekolah-sekolah yang dipilih oleh kalangan masyarakat dengan strata ekonomi menengah ke atas. Kondisi ini seringnya, menyebabkan anak-anak sekolah IT berpola hidup manja. Sebagian besar menghendaki perlakuan 'ingin dilayani”, bukan melakukan suatu tugas.

    c. Belum siapnya sebagian siswa lulusan sekolah umum untuk dibawa dalam suasana sekolah bermileu keislaman

        Sekolah Islam terpadu menawarkan pendidikan formal yang dikayakan dengan pelajaran-pelajaran keagamaan, seperti: al-Qur'an, fiqh, aqidah dan  siroh nabawiyyah. Bagi murid-murid lulusan sekolah-sekolah umum tentu hal ini akan menjadi kekagetan tersendiri, sebab sebelumnya mereka kurang atau sama sekali tidak mengenalnya.

    Dari tiga pemaparan tentang beberapa kelemahan atau lebih tepatnya beberapa hambatan di sebuah sekolah IT, maka sebagaimana dikatakan oleh orang bijak bahwa pemenang adalah orang yang mampu menjadikan hambatan sebagao peluang, demikian pula sekolah IT yang berkualitas adalah sekolah IT yang mampu menjadikan hambatan-hambatan di atas sebagai peluang, dengan cara:

    1. Mengadakan pekan-pekan peradaban yang selalu berganti tema pada tiap pekannya.

        Pekan peradaban yang dimaksud adalah seperti pekan kejujuran, pekan kedisiplinan, pekan kebersihan, pekan kerapian ataupun pekan kasih sayang. Tema-tema ini dapat ditentukan melalui suatu rapat yang melibatkan para unsur pimpinan, guru dan karyawan. Pelaksanaannya dapat dimulai pada hari senin, misalnya, untuk dievaluasi selama satu pekan. Cara penilaiannya dapat digambarkan secara sederhana seperti ini. Pekan kebersihan, misalnya, maka dimulai pada pagi hari semua wali asrama memantau  anak yang palimg kelihatan peduli terhadap kebersihan. Di sekolah, para  guru juga berbuat hal yang sama.Hasil dari pemantauan para guru dan karyawan tadi dikumpulkan pada hari sabtu sore dan pemenangnya diumumkan pada pelaksanaan upacara bendera atau apel pagi dengan pemberian hadiah oleh kepala sekolah. Hadiah diberikan dalam bentuk barang-barang yang berkaitan dengan kebersihan, misalnya 
sapu, tempat sampah, kain pel dan tentu saja uang saku atau makanan ringan sebagai motivator bagi pemenang.

    2. Guru dan wali asrama berperan sebagai orang tua pengganti

        Sebagian ahli psikologi mengatakan bahwa ada dua tipe pembelajar. Pertama, tipe guru, ciri-cirinya adalah mendahulukan ilmu daripada terpeliharanya hubungan baik dengan anak didik. Secara luas dapat dikatakan bahwa tipe pembelajar pertama ini adalah mengutamakan transfer ilmu darinya untuk dapat diserap dengan sempurna oleh anak didik. Mereka tidak terlalu memperhitungkan hubungan emosional antara dirinya dengan anak didiknya. Mereka memegangi prinsip, “biarlah saya dibenci oleh murid asal mereka mengerti pelajaran saya.” kedua, tipe orang tua, ciri-cirinya adalah kebalikan dari tipe pertama. Jadi prinsip mereka adalah,” biarlah pelajaran saya tidak tersampaikan secara
sempurna kepada murid asal saya dan mereka tetap terjalin hubungan baik.” menilik latar belakang ekonomi  sebagian besar siswa, nampaknya memilih tipe pembelajar  kedua adalah lebih tepat. 

   3.    Memberdayakan siswa-siswa baik dari lulusan full day/ boarding school    maupun lulusan sekolah umum dalam suatu  kelompok diskusi agama

  Dengan demikian dalam kelompok ini akan terjadi “Take and Give”. Kekurangan pengetahuan agama dari lulusan sekolah umum dapat terisi dengan diskusi-diskusi sekitar al-Qur’an, fiqh, aqidah, siroh maupun pengetahuan agama umum dari siswa-siswa dalam kelompok itu yang telah mendapatkan pelajaran tentangnya. Sebaliknya, siswa lulusan sekolah umum dapat berbagi tentang pengalamannya pula. Dengan kondisi ini diharapkan akan terwujud suasana belajar tanpa harus merasa digurui dan minder dalam kekurangan pengetahuan agama.

Pada akhirnya, disadari sepenuhnya bahwa tulisan ini tidak  mewakili keseluruhan adanya permasalahan dalam suatu sekolah Islam terpadu dan wacana solusinya, tetapi tiga permasalahan di atas beserta alternatif pemecahannya merupakan semacam pencerahan untuk ditindaklanjuti bersama. Wallohu a’lam 
 
  
   






















Komentar

Postingan populer dari blog ini

It is about Pronunciation